oleh

Ketua KPAI Berikan Perhatian Serius Anak di Kota Palopo Yang Kerap Kedapatan Isap Lem

JAKARTA. Sejak 2019 lalu hingga tahun 2020 anak dibawah umur dalam wilayah Kota Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang kerap kali ditemukan oleh warga Kelurahan Lagaligo Kecamatan Wara, mengisap lem fox mendapat perhatian serius dari Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di Jakarta. Sabtu,22 Februiari 2020.

Arist Merdeka Sirait, yang dikonfirmasi via telpon selular (ponsel) menyebutkan bahwa saat ini, banyak anak di Kota Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel) telah terkepung oleh lingkaran ketergantungan lem fox dan lem kayu  aibon.

BACA JUGA :

“ Kalau lingkaran kergantungan anak terhadap Lem Fox dan Aibon tidak segera diputus di Kota Palopo, dikhawatirkan anak sebagai pelaku, maupun korban pelanggaran hak anak akan sulit diatasi,” sebut Ketua KPAI Arist Merdeka Sirait via Ponsel dan Whatshapp sekira pukul 18.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Sabtu, 22 Februari 2020.

Menurut Ketua KPAI, dengan mengkonsumsi  zat adiktif tersebut, maka dapat dipastikan akan merusak masa depan, mental dan jiwa anak, bahkan dapat mengakibatkan radang pada otak.

“ Oleh sebab itu Komnas Perlindungan Anak Indonesia, mendesak dengan segera agar orangtua, masyarakat, pemerintah dan aparat penegak hukum, untuk bahu membahu memutus mata rantai anak dari ketergantungan zat adiktif Lem Fox dan Aibon. Tidak ada toleransi terhadap bahaya zat adiktif,’’ tegas Arist Merdeka Sirait.

Lanjut, Komnas Perlindungan Anak Indonesia, meminta Pemerintah  Kota Palopo, dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel untuk segera melakukan, mengawasi  penjual lem Fox dan Aibon,  khususnya kepada anak dibawah umur.

“ Pemerintah Palopo tidak boleh berdiam diri, sementara hak anak di Palopo terus dibiarkan dilanggar, dan masa depan anak terus terancam, terus menerus berada dalam lingkaran kejahatan dan dieksploitasi,” terang  Arist Merdeka Sirait dalam siaran persnya, menyikapi maraknya anak-anak  ketergantungan Lem Fox dan aibon di Kota Palopo, Sulsel. Sabtu, 22 Februari 2020

Tak sampai disitu, Arist Merdeka Sirait membeberkan, bahwa sebuah fakta menunjukan, Minggu malam, 21 April 2019 di jalan  Andi Mappanyompa Kelurahan Luminda Kecamatan Wara Timur,  Babinsa dan Babinkamtibmas setempat mendapati  8 orang anak dibawah umur tengah asyik mengisap lem Fox dan Aibon, dimana diantaranya 2 Wanita dan 6 orang laki-laki.

Kemudian Jumat malam, 21 Februari 2020 disekitar arena Skateboard dan Lapangan Basket, yang tak jauh dari Stadion Sepakbola Lagaligo Kelurahan Lagaligo Kecamatan Wara Kota Palopo,Sulsel sekitar pukul 22.00 Wita, warga setempat kembali diresahkan oleh anak dibawah umur berjumlah 10 orang, saat usai mengisap lem Fox, mereka berteriak dan mengganggu pengguna jalan.

“ Karena itu, kita berharap agar anak Indonesia sebagai penerus masa depan bangsa segera dibina agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas dan kenakalan remaja lainnya,” pungkasnya.

Diketahui secara bersama bahwa dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dijelaskan, bahwa setiap Anak memiliki hak untuk mendapat kesempatan yang seluas-luasnya, tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental, maupun sosial, pemerintah pusat dan daerah memberikan jaminan dan perhatian khusus.

Pasal 1 angka 15, “Perlindungan khusus adalah perlindungan yang diberikan kepada anak dalam situasi darurat,anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yangdieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadikorban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anakkorban penculikan, penjualan, perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental,anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran,”

Pasal 2. ” Penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang DasarNegara Republik Indonesia Tahun 1945 serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak-Hak Anak meliputi :

a.non diskriminasi;

b.kepentingan yang terbaik bagi anak;

c.hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan

d.penghargaan terhadap pendapat anak

Pasal 21,  “Negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab menghormati dan menjamin hak asasi setiap anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak, dan kondisi fisik dan/atau mental.’’

(awi celebes)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *