Maros — Dugaan penelantaran pasien di Puskesmas Tanralili menjadi perhatian publik setelah seorang pasien dilaporkan dipulangkan sebelum mendapatkan pemeriksaan dari dokter. Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa, 24 Maret 2026, dan dialami oleh Indra Lalana Taba.
Keluarga pasien menyampaikan kekecewaan atas pelayanan yang diterima. Kerabat pasien, Syarifuddin, mengungkapkan bahwa Indra telah menjalani perawatan sejak beberapa hari sebelumnya, bertepatan dengan momen Idulfitri. Namun selama dirawat, pasien disebut tidak pernah diperiksa langsung oleh dokter.
“Selama dirawat, tidak ada dokter yang memeriksa. Hanya perawat saja yang menangani, memberikan obat dan memasang infus,” ungkap Syarifuddin.
Ia menjelaskan, pada siang hari 24 Maret, seorang perawat melepas infus pasien dan meminta agar pasien dipulangkan. Alasan yang disampaikan karena banyaknya pembesuk yang dinilai mengganggu pelayanan di puskesmas.
“Perawat bilang pasien sudah membaik dan harus pulang karena terlalu banyak pembesuk. Padahal kondisi pasien belum stabil,” jelasnya.
Keluarga sempat memprotes keputusan tersebut. Pihak puskesmas disebut sempat berupaya kembali memasang infus untuk melanjutkan perawatan. Namun, pasien yang merasa kecewa memilih menolak dan pulang ke rumah.
Beberapa waktu kemudian, pihak puskesmas mendatangi kediaman pasien. Seorang dokter melakukan pemeriksaan sekitar pukul 17.30 WITA dan menyatakan kondisi pasien masih belum stabil serta menyarankan pemeriksaan lanjutan, termasuk tes laboratorium dan kemungkinan perawatan kembali di puskesmas.
Meski demikian, pasien menolak untuk kembali dirawat karena kekecewaan terhadap pelayanan sebelumnya.
Kondisi pasien dilaporkan sempat memburuk setelah dipulangkan. Pada Rabu (25/3), keluarga membawa Indra ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Hingga saat ini, pasien masih menjalani perawatan intensif.
Syarifuddin menilai, alasan banyaknya pembesuk tidak seharusnya menjadi dasar pemulangan pasien, terutama dalam konteks masyarakat pedesaan yang memiliki ikatan kekeluargaan kuat, terlebih dalam suasana Lebaran.
“Di kampung, wajar kalau banyak keluarga datang menjenguk. Itu bagian dari dukungan moral. Seharusnya ada kebijakan yang lebih bijak, bukan langsung memulangkan pasien,” tegasnya.
Ia juga menyebut dugaan pelayanan yang kurang optimal di puskesmas tersebut bukan kali pertama terjadi. Sejumlah warga, kata dia, pernah mengalami hal serupa, mulai dari keterbatasan pelayanan hingga persoalan administrasi seperti kepesertaan jaminan kesehatan.
Atas kejadian ini, keluarga pasien mendesak Dinas Kesehatan Kabupaten Maros untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen dan standar pelayanan di Puskesmas Tanralili.
“Kami minta ada evaluasi serius agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Pelayanan kesehatan harus mengedepankan kemanusiaan,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Puskesmas Tanralili belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut. Masyarakat pun berharap adanya transparansi serta perbaikan sistem pelayanan guna menjamin keselamatan dan hak pasien dalam memperoleh layanan kesehatan yang layak.
ARFAH















