JAKARTA – Penurunan pasar kripto yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir disebut lebih banyak memukul pelaku pasar ritel dibandingkan investor institusi. Kondisi ini dinilai berbeda dengan fase krisis pada 2022 lalu saat runtuhnya bursa kripto FTX yang dampaknya meluas ke berbagai sektor, mulai dari venture capital (VC), institusi, hingga investor individu.
Laporan terbaru dari Crypto Insight Groups menyebut perubahan dinamika pasar mulai terlihat sejak kejatuhan kripto pada Oktober tahun lalu. Pada periode tersebut terjadi gelombang likuidasi besar yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar aset digital, sehingga memicu penurunan kepercayaan investor serta melemahnya minat transaksi.
“Minat investor telah melemah secara signifikan dari Desember hingga Januari, menandai fase pendinginan yang jelas di sebagian besar segmen. Pergeseran yang paling mencolok terjadi di sektor ritel,” tulis laporan tersebut sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Jumat (20/02).
Data pasar menunjukkan investor individu cenderung mengurangi eksposur mereka di tengah volatilitas harga. Sebaliknya, sejumlah institusi justru tetap melakukan akumulasi aset kripto meskipun berada dalam posisi rugi secara jangka pendek.
Perusahaan Strategy, yang dikenal sebagai pemegang cadangan Bitcoin terbesar di dunia, dilaporkan kembali menambah kepemilikan aset tersebut di tengah pelemahan pasar. Langkah serupa juga dilakukan oleh BitMine yang terus mengakumulasi Ethereum dalam periode yang sama.
Fenomena ini menunjukkan perbedaan respons antara investor ritel dan institusi. Jika investor individu cenderung menahan diri akibat tekanan pasar, institusi justru memanfaatkan fase penurunan harga sebagai momentum akumulasi jangka panjang.
Analis menilai pola tersebut mengindikasikan meningkatnya dominasi investor institusional dalam ekosistem kripto, sekaligus menandai perubahan struktur pasar dibandingkan siklus penurunan sebelumnya.

















