MAROS — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros terus memperkuat upaya menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman El Nino yang berdampak pada ketersediaan air bagi sektor pertanian.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros, Jamaluddin, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyalurkan hampir 500 unit pompa air kepada petani selama dua tahun terakhir untuk membantu mengatasi kekeringan.
Hal tersebut disampaikan Jamaluddin saat ditemui di Tribun Utara Lapangan Pallantikang, kompleks Kantor Bupati Maros, Kamis (22/10/2026), dalam kegiatan Gerakan Pangan Murah sekaligus peringatan Hari Pangan Sedunia 2026.
“Beberapa upaya yang kita lakukan seperti penyediaan pompa air bagi petani-petani yang terdampak kekeringan. Saat ini sudah hampir 500-an dalam dua tahun ini pompa air yang telah kita berikan kepada masyarakat untuk membantu mengatasi persoalan kekeringan,” ungkap Jamaluddin.
Menurutnya, pompanisasi menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keberlangsungan produksi pertanian, terutama ketika ketersediaan air irigasi tidak mampu memenuhi kebutuhan lahan persawahan.
OPLAH Non-Rawa Sasar 3.200 Hektare
Selain penyaluran pompa air, Pemerintah Kabupaten Maros juga menjalankan program Optimasi Lahan (OPLAH) Non-Rawa dengan sasaran lahan seluas sekitar 3.200 hektare lebih yang melibatkan 124 kelompok tani.
Program tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian agar tetap produktif, termasuk melalui dukungan infrastruktur dan pengelolaan sumber air.
Jamaluddin juga menyebut adanya program PMAAS (Pertanian Modern Advanced Agriculture System) dengan target luasan 3.585 hektare di Kabupaten Maros.
Ia mengatakan, realisasi program tersebut telah berjalan, dengan luas pelaksanaan yang disebutnya mencapai lebih dari 330 hektare hingga Oktober 2026.
Berbagai program tersebut diharapkan dapat membantu petani menghadapi keterbatasan air sekaligus meningkatkan produktivitas lahan pertanian di tengah kondisi iklim yang menantang.
Lebih dari 3.000 Hektare Sawah Masuk Musim Tanam Ketiga
Jamaluddin mengungkapkan, meskipun menghadapi ancaman El Nino, lahan pertanian di Kabupaten Maros yang telah memasuki musim tanam ketiga (MT3), khususnya di wilayah Daerah Irigasi (DI) Bantimurung, tercatat mencapai lebih dari 3.000 hektare.
Angka tersebut menjadi perhatian karena berdasarkan komunikasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS), kemampuan layanan DI Bantimurung disebut hanya sekitar 1.200 hektare.
Kondisi itu mendorong pemerintah daerah untuk mengoptimalkan berbagai alternatif penyediaan air, termasuk melalui pompanisasi, agar lahan sawah tetap memperoleh pasokan air yang dibutuhkan.
“Beberapa upaya yang kita lakukan dalam rangka mengoptimalisasikan lahan-lahan sawah kita yaitu dengan dukungan pompanisasi,” jelasnya.
Menurut Jamaluddin, dukungan pompa air menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan aktivitas pertanian dan mendukung keberlanjutan musim tanam meskipun ketersediaan air menghadapi tekanan.
Ia berharap berbagai program yang telah dijalankan dapat membantu menjaga produksi pangan daerah hingga akhir tahun.
Gerakan Pangan Murah Dukung Daya Beli Masyarakat
Di sisi lain, Pemkab Maros juga menggelar Gerakan Pangan Murah sebagai upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan pokok, membantu masyarakat mendapatkan pangan dengan harga terjangkau, serta mendukung pengendalian inflasi.
Kegiatan yang berlangsung di Tribun Utara Lapangan Pallantikang tersebut melibatkan mitra Perum BULOG, pelaku UMKM, dan petani lokal yang turut memasarkan hasil pertanian mereka, termasuk bawang merah.
Jamaluddin berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah, petani, pelaku usaha, dan UMKM.
Dengan dukungan pompanisasi, optimalisasi lahan, modernisasi pertanian, serta pengendalian harga pangan, Pemerintah Kabupaten Maros berupaya menjaga keberlanjutan produksi pertanian dan ketersediaan pangan di tengah tantangan El Nino.
Meski demikian, keberhasilan menjaga produksi hingga akhir tahun tetap bergantung pada ketersediaan air, kondisi cuaca, serta efektivitas pelaksanaan program di tingkat petani.















