Seekor tuna sirip biru atau bluefin tuna didaratkan di Pelabuhan Perikanan Tenda, Kota Gorontalo, pada Minggu (22/2) sore. Ikan ini dikenal sebagai salah satu ikan termahal di dunia, khususnya di pasar lelang tuna di Jepang.
Tuna tersebut ditangkap menggunakan pancing di perairan Laut Maluku oleh nelayan pada Jumat (20/2). Berat awal ikan mencapai 230 kilogram.
Setelah tiba di darat, ikan dibersihkan dengan membuang isi perut, insang, dan bagian ekor. Selanjutnya, tuna sirip biru itu dibawa ke lapak penjualan ikan di Jalan Kalimadu.
Karena ukurannya terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam boks pendingin, ikan kemudian dipotong menjadi beberapa bagian, seperti daging, kepala, rahang, dan tulang.
Nasir Yusuf, pengelola lapak sekaligus pemilik kapal penangkap ikan yang beroperasi di Teluk Tomini, mengungkapkan bahwa sempat ada calon pembeli yang menghubunginya untuk membeli ikan tersebut dalam kondisi utuh. Namun, saat itu tuna sudah terlebih dahulu dipotong menjadi loin, yaitu potongan daging tebal yang dipisahkan dari bagian lainnya.
“Kalau masih utuh, pasti ada yang beli. Sudah ada yang menawar sebelumnya,” kata Nasir, dilansir laman darilaut.id, Sabtu (28/2).
Nasir yang telah lebih dari 20 tahun berkecimpung dalam usaha penangkapan dan penjualan ikan menjelaskan bahwa tuna sirip biru memiliki perbedaan dibanding jenis tuna lainnya. Dagingnya lebih berlemak.
Mail, pekerja di lapak tersebut, juga membagikan pengalamannya saat mengolah tuna sirip biru menjadi loin. Menurutnya, tekstur daging ikan ini sangat berbeda, begitu pula dengan kulitnya yang lebih tebal dan keras dibanding tuna pada umumnya.
“Dagingnya memang berbeda,” kata Mail pada Rabu (25/2). Ia sendiri sudah terbiasa memotong tuna dengan berat antara 80 hingga 120 kilogram.
Tuna sirip biru hasil tangkapan kapal Cahaya Bilqis ini memiliki berat bersih 196 kilogram setelah diproses, dan kemudian dipasarkan melalui lapak di Gorontalo.
















