LONDON/ABU DHABI – Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026), menargetkan kepemimpinan negara tersebut dan memicu konflik baru di kawasan Timur Tengah. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran pasar global, terutama terhadap lonjakan harga energi dan ketidakstabilan ekonomi dunia.
Dilansir dari Reuters, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan serangan tersebut bertujuan mengakhiri ancaman keamanan sekaligus memberi peluang bagi rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan mereka. Sebagai respons, Teheran dilaporkan meluncurkan rudal ke arah Israel, menandai eskalasi cepat konflik di kawasan.
Ketegangan ini langsung membuat negara-negara Teluk penghasil minyak berada dalam posisi waspada, mengingat potensi gangguan terhadap pasokan energi global.
Harga Minyak Berpotensi Melonjak
Minyak menjadi indikator utama dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi dunia. Iran merupakan salah satu produsen minyak besar dan berada di dekat Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Gangguan keamanan di wilayah tersebut berpotensi membatasi distribusi minyak ke pasar internasional dan mendorong kenaikan harga. Pada perdagangan Jumat, minyak mentah Brent berada di kisaran 73 dolar AS per barel, naik sekitar 20 persen sepanjang tahun ini.
Sejumlah perusahaan minyak besar dan rumah perdagangan energi bahkan dilaporkan menghentikan sementara pengiriman minyak mentah dan bahan bakar melalui Selat Hormuz menyusul serangan tersebut.
Ekonom pasar berkembang Capital Economics, William Jackson, memperkirakan harga Brent dapat naik hingga sekitar 80 dolar AS per barel jika konflik tetap terbatas. Namun, apabila konflik berkepanjangan dan mengganggu pasokan, harga minyak berpotensi menembus 100 dolar AS per barel.
Kenaikan tersebut diperkirakan dapat menambah inflasi global sebesar 0,6 hingga 0,7 poin persentase.
Pasar Keuangan Global Diprediksi Bergejolak
Konflik baru ini diperkirakan memperparah volatilitas pasar global yang sejak awal tahun sudah berfluktuasi akibat kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat dan aksi jual besar saham teknologi.
Indeks volatilitas VIX tercatat naik sekitar sepertiga sepanjang tahun ini, sementara volatilitas obligasi pemerintah AS juga meningkat 15 persen.
Pasar mata uang diperkirakan ikut terdampak. Analis menilai pergerakan dolar AS akan sangat bergantung pada skala dan durasi konflik. Jika perang berlangsung lama dan mengganggu pasokan energi, dolar AS berpotensi menguat terhadap sebagian besar mata uang dunia, kecuali yen Jepang dan franc Swiss yang dikenal sebagai aset aman.
Mata uang Israel, shekel, juga diperkirakan mengalami tekanan setelah Iran melakukan serangan balasan. Pada konflik sebelumnya, nilai tukar shekel sempat turun tajam sebelum akhirnya pulih dengan cepat, meski analis memperingatkan kondisi kali ini bisa berbeda jika risiko pasar meningkat lebih lama.
Aset Aman Diburu Investor
Ketidakpastian geopolitik biasanya mendorong investor beralih ke aset aman. Franc Swiss diperkirakan kembali menguat, sementara emas—yang telah naik sekitar 22 persen sepanjang 2026—berpotensi mengalami lonjakan permintaan tambahan. Perak juga menunjukkan tren penguatan serupa.
Investor juga diperkirakan meningkatkan pembelian obligasi pemerintah Amerika Serikat, yang imbal hasilnya telah menurun dalam beberapa pekan terakhir.
Sebaliknya, bitcoin tidak lagi dipandang sebagai aset lindung nilai. Mata uang kripto tersebut dilaporkan turun sekitar 2 persen pada Sabtu dan telah kehilangan lebih dari seperempat nilainya dalam dua bulan terakhir.
Bursa Timur Tengah dan Sektor Transportasi Tertekan
Perdagangan saham di kawasan Timur Tengah, termasuk Arab Saudi dan Qatar, akan menjadi indikator awal sentimen investor terhadap konflik ini. Analis memperkirakan pasar saham Teluk dapat turun antara 3 hingga 5 persen jika eskalasi berlanjut.
Indeks saham utama Arab Saudi tercatat telah turun 1,3 persen dalam lima hari perdagangan terakhir pekan lalu, sementara pasar saham Dubai juga mengalami pelemahan dalam dua pekan terakhir.
Di sektor transportasi, maskapai global mulai membatalkan sejumlah penerbangan di kawasan Timur Tengah akibat risiko keamanan dan kemungkinan penutupan wilayah udara. Kondisi ini berpotensi menekan saham maskapai penerbangan.
Sebaliknya, perusahaan industri pertahanan Eropa diperkirakan mendapat dorongan permintaan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global.
(Sumber: Reuters)















