BEIJING – China resmi membatasi kebijakan ekspor terhadap 40 perusahaan asal Jepang pada Selasa (24/02) waktu setempat dengan alasan keamanan nasional. Kebijakan tersebut memperuncing ketegangan antara dua negara dengan ekonomi terbesar di Asia yang telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Kementerian Perdagangan China menyatakan langkah tersebut bertujuan membatasi apa yang disebut sebagai dorongan remiliterisasi dan ambisi nuklir Jepang. Pemerintah China juga menegaskan kebijakan itu sesuai dengan hukum internasional.
“Langkah ini ditujukan untuk membatasi dorongan remiliterisasi dan ambisi nuklir Jepang serta sepenuhnya sah menurut hukum internasional,” demikian pernyataan resmi Kementerian Perdagangan China, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber.
Eskalasi ini terjadi beberapa hari setelah robot humanoid China menampilkan demonstrasi seni bela diri dalam acara Spring Festival Gala yang menarik perhatian publik internasional. Pertunjukan tersebut memicu perhatian luas terhadap perkembangan teknologi robotika China.
Sejumlah analis menilai demonstrasi teknologi tersebut mencerminkan percepatan pengembangan robotika yang berpotensi memiliki aplikasi militer. Teknologi itu disebut sejalan dengan dokumen pengembangan militer Tentara Pembebasan Rakyat China atau People’s Liberation Army (PLA).















