JAKARTA — Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Dino Patti Djalal, menyampaikan analisis tajam terkait meningkatnya konflik di Timur Tengah melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya pada 1 Maret 2026. Dalam pernyataannya, ia menyoroti dampak geopolitik serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta implikasinya bagi posisi diplomasi Indonesia.
Dino Patti Djalal diketahui pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pada periode 14 Juli 2014 hingga 20 Oktober 2014.
Dalam video yang direkam di sebuah kafe di London tersebut, Dino menyebut dunia internasional dikejutkan oleh serangan militer yang terjadi, terlebih karena berlangsung pada bulan Ramadan yang dinilainya menimbulkan sensitivitas tersendiri bagi dunia Islam.
Konflik Diprediksi Berkepanjangan
Menurut Dino, konflik yang terjadi berpotensi berlangsung lama karena tujuan operasi militer dinilai tidak hanya membatasi kemampuan nuklir Iran, tetapi juga mengarah pada upaya mengganti pemerintahan di Teheran.
Ia menilai berbagai instrumen—mulai dari tekanan militer, politik, ekonomi hingga operasi intelijen—kemungkinan akan digunakan untuk melemahkan pemerintah Iran. Di sisi lain, Iran diperkirakan akan melakukan perlawanan dengan memanfaatkan jaringan politik dan militernya di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut, kata dia, berisiko memperluas konflik dan menyeret aktor-aktor regional lainnya, sehingga menciptakan guncangan geopolitik yang lebih luas.
Kritik terhadap Pendekatan Militer
Dino juga menegaskan bahwa Iran dalam konteks konflik ini merupakan pihak yang diserang, bukan pihak yang memulai serangan terhadap Amerika Serikat maupun Israel. Ia menilai kegagalan perundingan diplomatik tidak dapat dijadikan legitimasi bagi tindakan militer.
Menurutnya, penggunaan kekuatan bersenjata sebagai solusi konflik mencerminkan tren yang mengkhawatirkan dalam politik global dan berpotensi mengancam stabilitas internasional.
Soroti Rencana Mediasi Indonesia
Dalam analisanya, Dino menanggapi pernyataan pemerintah Indonesia mengenai kesiapan Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator konflik dengan melakukan kunjungan ke Teheran.
Ia menilai gagasan tersebut tidak realistis dari berbagai aspek, mulai dari dinamika politik kekuatan besar, hubungan diplomatik Indonesia–Iran yang dinilai belum cukup kuat, hingga hambatan logistik dan politik.
Dino berpendapat negara adidaya seperti Amerika Serikat jarang menerima mediasi pihak ketiga ketika sedang menjalankan operasi militer. Selain itu, ia menilai upaya mediasi juga berpotensi menimbulkan dilema diplomatik karena Indonesia harus berinteraksi langsung dengan berbagai pihak yang saling berkonflik, termasuk Israel.
Dorong Sikap Tegas Politik Luar Negeri
Alih-alih mengambil peran mediator, Dino menyarankan Indonesia mempertegas posisi politik luar negeri dengan menyampaikan sikap yang konsisten terhadap prinsip perdamaian dan hukum internasional.
Ia menekankan pentingnya mempertahankan prinsip politik luar negeri bebas aktif, termasuk keberanian menyampaikan kritik terhadap negara besar apabila dinilai melanggar norma internasional.
Menurutnya, perbedaan sikap dengan negara mitra tidak selalu berarti permusuhan, melainkan bagian dari diplomasi yang berdaulat.
Usulan Penangguhan Pasukan Perdamaian
Dalam bagian akhir analisanya, Dino juga mengusulkan agar pemerintah Indonesia mempertimbangkan penangguhan pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza dalam kerangka International Stabilization Force (ISF), sambil melakukan evaluasi terhadap situasi keamanan yang berkembang di kawasan.
Ia menilai langkah tersebut dapat menjadi sinyal bahwa Indonesia tetap berpegang pada prinsip dan berhati-hati terhadap risiko keterlibatan dalam konflik yang semakin kompleks.
Video tersebut diakhiri dengan ajakan kepada publik untuk mendiskusikan pandangan yang disampaikannya secara terbuka, serta menekankan pentingnya keberanian menyampaikan kebenaran dalam diplomasi internasional.

















