Iran melancarkan serangan ke fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk pada Rabu malam waktu setempat, sebagai respons atas tewasnya Kepala Intelijen Esmail Khatib. Serangan ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang semakin memanas antara Teheran dan pihak lawannya.
Kematian Esmail Khatib terjadi dua hari setelah Kepala Keamanan Ali Larijani bersumpah akan melakukan pembalasan. Sebelumnya, seorang perwira Korps Garda Revolusi Iran sekaligus Kepala Basij, Gholamreza Soleimani, juga dilaporkan tewas akibat serangan yang dikaitkan dengan Israel.
Gelombang pembunuhan terarah terhadap sejumlah tokoh penting Iran telah melemahkan struktur kepemimpinan, meski pejabat intelijen Amerika Serikat menyebut pemerintahan Teheran masih bertahan. Konflik ini sendiri bermula dari serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran sejak 28 Februari, yang kini telah berlangsung hampir tiga pekan.
Dikutip dari AFP, Kamis (19/3/2026), Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam kematian Khatib sebagai “pembunuhan pengecut”. Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa “setiap tetes darah yang tertumpah memiliki harga, dan para pembunuh keji para martir ini akan segera harus membayarnya”.
Pemerintah Iran juga mengancam akan menghancurkan industri minyak dan gas negara-negara tetangga di Teluk, setelah serangan Israel menghantam ladang energi di South Pars—yang merupakan salah satu cadangan gas terbesar di dunia.
“Kami memperingatkan Anda sekali lagi bahwa Anda telah melakukan kesalahan besar dengan menyerang infrastruktur energi Republik Islam, dan tanggapannya sedang dilaksanakan,” kata Garda Revolusi dalam pernyataan resmi yang disiarkan media Iran.
“Jika hal itu diulangi lagi, serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi Anda dan sekutu Anda tidak akan berhenti sampai benar-benar hancur, dan tanggapan kami akan jauh lebih keras daripada serangan malam ini,” tambahnya.
Ledakan Guncang Arab Saudi, Qatar, dan UEA
Sejumlah ledakan keras dilaporkan terdengar di Riyadh pada Rabu malam, setelah otoritas setempat menyatakan berhasil mencegat empat rudal balistik yang mengarah ke ibu kota Arab Saudi. Kementerian Pertahanan juga mengonfirmasi penghancuran sebuah drone yang menuju fasilitas gas.
Di Qatar, pertahanan sipil melaporkan kebakaran di fasilitas gas utama akibat serangan Iran. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
“Pertahanan Sipil pada awalnya telah mengendalikan kebakaran di Ras Laffan, tanpa ada laporan cedera,” ujar pihak kementerian melalui media sosial.
Sementara itu, sistem pertahanan udara Uni Emirat Arab dilaporkan aktif mencegat ancaman rudal dan drone pada hari yang sama, seiring meningkatnya intensitas serangan dari Iran.
“Pertahanan udara UEA saat ini sedang menanggapi ancaman rudal dan drone yang datang dari Iran. Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa suara yang terdengar adalah hasil dari sistem pertahanan udara yang mencegat rudal dan drone,” demikian pernyataan resmi yang disampaikan otoritas setempat.















