MAROS — Dinas Pertanian Kabupaten Maros terus memantau progres rehabilitasi jaringan irigasi tersier di sejumlah kecamatan untuk memastikan pekerjaan selesai sebelum musim hujan. Hingga pertengahan Oktober 2026, progres pembangunan 20 unit jaringan irigasi yang melibatkan kelompok tani sebagai pelaksana telah mencapai sekitar 80 persen.
Kabid Sarana dan Prasarana (Sapras) Dinas Pertanian Kabupaten Maros, Syamsul Bahri, menyampaikan hal tersebut saat diwawancarai di ruang kerjanya pada Rabu (14/10/2026). Ia mengatakan, pemantauan dilakukan untuk memastikan kondisi jaringan irigasi yang dibangun dapat mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian.
Dalam pemantauan tersebut, Dinas Pertanian meninjau sejumlah kelompok tani di Kecamatan Lau dan Maros Baru, termasuk di Kelurahan Soreang serta beberapa desa di Kecamatan Maros Baru.
Di wilayah Maros Baru, pemantauan dilakukan terhadap kelompok tani di Desa Borikamase, Desa Majannang, dan Desa Mattiro Tasi. Sebagian besar pekerjaan fisik dilaporkan telah selesai, meskipun masih terdapat satu kelompok tani yang progres pengerjaannya belum mencapai 100 persen.
“Untuk pembangunan irigasi tahap kedua ini ada 20 unit atau 20 poktan sebagai penerima manfaat daripada pembangunan irigasi tersier,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program tersebut menggunakan pola swakelola, sehingga kelompok tani terlibat langsung mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi pekerjaan.
Menurutnya, pembangunan jaringan irigasi tersier tersebar di lima kecamatan, yakni Cenrana, Maros Baru, Lau, Bantimurung, dan Tanralili.
Meski sebagian besar pekerjaan berjalan sesuai rencana, pelaksanaan di lapangan menghadapi kendala akibat musim kemarau panjang. Keterbatasan air tidak hanya berdampak pada kebutuhan pertanian, tetapi juga menyulitkan kelompok tani dalam melaksanakan pekerjaan fisik, khususnya proses pembetonan jaringan irigasi.
“Kendalanya karena ini mengingat ini merupakan musim kemarau panjang, tentulah dalam melakukan aktivitas fisik juga sangat membutuhkan air sehingga air mereka juga kesulitan untuk mendapatkan air,” jelasnya.
Ia menambahkan, jaringan irigasi tersebut dirancang untuk mendistribusikan air dari jaringan irigasi induk dan sekunder yang bersumber dari Daerah Irigasi Bantimurung, termasuk untuk menjangkau wilayah Mattiro Tasi.
Dinas Pertanian Kabupaten Maros menargetkan seluruh pekerjaan fisik rampung pada akhir November 2026. Setelah pembangunan selesai, kelompok tani juga harus menuntaskan laporan pelaksanaan kegiatan karena program tersebut dilaksanakan secara swakelola.
“Harapan kami Dinas Pertanian itu akhir bulan 11 sudah selesai semua, mengingat juga setelah selesai pekerjaan fisik, tentu kami akan mengejar untuk laporan pelaksanaan kegiatannya karena ini kegiatan swakelola yang dilakukan oleh kelompok tani,” katanya.
Diharapkan Tingkatkan Produktivitas Pertanian
Pembangunan jaringan irigasi tersier diharapkan mampu memperluas jangkauan distribusi air hingga ke bagian tengah lahan persawahan. Dengan demikian, petani tidak lagi hanya mengandalkan aliran air yang menjangkau sawah di sekitar jaringan irigasi sekunder.
Menurut Kabid Sapras, keberadaan jaringan tersebut juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pompa air untuk mengalirkan air ke lahan pertanian.
“Tidak lagi membutuhkan pompanisasi atau ini atau pompa unit dalam mengalirkan air ke lahan pertanian,” ungkapnya.
Selain memperlancar pengairan, program tersebut diharapkan meningkatkan intensitas tanam dan produktivitas hasil panen. Berdasarkan informasi dari sejumlah ketua kelompok tani, lahan yang sebelumnya hanya dapat ditanami satu kali dalam setahun diharapkan bisa ditingkatkan menjadi dua kali tanam.
Produktivitas padi juga ditargetkan meningkat dari kisaran 5,5 hingga 6 ton per hektare menjadi 6,5 ton per hektare.
Khusus di wilayah Lau dan Maros Baru, Dinas Pertanian memberikan dukungan melalui pembangunan jaringan irigasi untuk mengatasi keterbatasan pengairan yang selama ini dihadapi petani.
“Jadi Lau, Maros Baru ini yang kita sementara support untuk tahun ini,” tutupnya.
Penyelesaian pembangunan jaringan irigasi tersebut diharapkan dapat memperkuat ketersediaan air bagi petani, meningkatkan produktivitas persawahan, serta mendukung keberlanjutan produksi pertanian di Kabupaten Maros.















